- Tema: Balada Si Roy Rendez-Vous
- Judul: Home Sweet Home
- Pengarang: Gol A Gong
- Penerbit: PT. Gramedia Jakarrta, 1990
tak kutemukan di sajak-sajak
di matahari, dan di bulan
karena tidurku
di bawah bintang-bintang
jauh di rimba belantara
tenggelam di dasar lautan
mesti pulang kemana
setelah letih mengembara?
(Heri H. Harris)
***
Si avonturir jalanan itu mengusap-usap jendela bis yang basah kena hujan, sehingga membentuk sebuah lingkaran. Dia mengintip lewat lingkaran itu. Melihat lio, tempat pembakaran bata-genteng, yang kini posisinya mulai terjepit rumah dan pabrik. Persawahan yang biasanya melatar-belakangi lio itu, kini sudah jarang kita temui.
Di sepanjang Tangerang-Serang, yang dulu dihiasi sawah menghijau, kini sudah banyak berubah jadi rumah dan pabrik. Bahkan masih kita lihat satu-dua tanah kosong ditancapkan papan pengumuman "TANAH INI AKAN DIJUAL". Mungkin di situ akan jadi rumah dan pabrik lagi. Lantas kalau semua sawah dijadikan bangunan, kita makan apa nanti?
Tiba-tiba bis merayap pelan. Lalu berhenti. Tampak kendaraan lain pun banyak yang berhenti, membuat antrian panjang.
"Ada apa, Pak?" Roy berdiri, melihat ke depan.
Begitu banyak orang berkerumun, pikirnya.
"Ada orang mati!" Kata seseorang.
Roy meloncat turun.
Selayaknyalah kita menghormati orang yang mati untuk penghabisan kali, karena orang itu sudah selesai menjalani hidup. Sudah selesai dengan segala kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Sekarang, orang itu sedang menuju ke "kerajaan"Nya. Membawa segala rupa perbuatan dan tanggung jawabnya.
Berpuluh-puluh orang tampak mengekor ke serombongan orang yang mengusung keranda. Iring-iringan itu melintasi jalan. Mereka sedang mengantar tubuh ke sebuah "rumah" yang jauh, yang diidam-idamkan seluruh insan, karena "rumah" itu terbebas dari nafsu serakah orang-orang yang mengumbar janji dan bayangan menakutkan tentang perang nuklir.
Sebuah rumah peristirahatan abadi! Dimana para dayangnya adalah bidadari. Minumannya adalah sungai-sungai yang mengalir di taman-taman. Dan makanan yang tidak ada habisnya.
Oh, rumah idaman yang hanya ada di angan-angan!
Tiba-tiba saja seperti ada yang menyentak dada si Roy. Bagai aliran listrik. Menyengat dan menakutkan. Ya, dia merasa ngeri sekali melihat iring-iringan kematian itu.
Si bandel kini ingat rumahnya. Ingat tiang-tiang yang menyangga atapnya. Ingat tanaman segar yang meniupkan hawa sejuk dari halaman. Pagar yang membatasi dari hingar-bingar dunia luar. Dan orang-orang yang berlindung di dalamnya dari ganasnya alam.
I am home, Mama! Teriak batinnya. Oh, betapa dia sudah rindu ingin memeluk dan mencium kening mamanya. Menagantarkan jahitan-jahitan ke para langganannya. Dan memijiti pundak mamanya setelah letih menjahit.
Bis memasuki terminal, yang dimana-mana kini letaknya selalu di pinggiran kota. Tambah ramai saja terminal ini. Bis-bis yang keluar-masuk diparkir begitu semrawut. Apalagi pintu gerbangnya persis di persimpangan, sehingga kemacetan sering merepotkan para polisi (biar ada kerjaan). Ditambah lagi dengan para pelajar dari luar kota yang ikut membumbui kesemrawutan terminal ini.
Roy pelan-pelan turun. Seluruh tubuhnya bergetar. Angin sore manampar-nampar jiwanya. Ada sesuatu yang asing menyelinap dan merembesi tubuhnya begitu melihat awan hitam lebat menggantung di langit.
Langkah kakinya jadi sangat tergesa. Dia sedang menuju rumahnya. Menuju di mana dia menghabiskan hidup bersama mamanya. Menuju pelukan dan kasih sayang mamanya. Menuju semuanya. Harpannya.
"Pulang kemping nih yee," ledek dua gadis yang baru pulang sekolah sore. Mereka manis-manis bagai permen, penghias toples-toples di setiap toko. Menyenangkan memang jika bisa mengulum permen itu.
Roy mengedipkan matanya. Untuk intermezo dia memang menyukai permainan kecil di jalan seperti tadi.
"Abis naik gunung ya?" Kata yang paling centil.
Roy mengangguk.
"Gunung apa?" yang memakai bertel nimbrung.
"Gunung kembar punya kalian!" Si bandel noraknya kumat. Dia melompat ke angkutan kota. Tertawa ngakak sambil mengacungkan jari tengahnya.
"Sialan!" Si centil mengacungkan jari tengahnya.
"Kuwalat, kamu!" Si bertel menimpali.
Roy sudah tidak menggubris. Dia kini sedang membayangkan rumahnya berada di sebuah taman indah. Ada kupu-kupu aneka warna. Bunga-bunga. Ikan-ikan yang berloncatan gembira. Dan burung-burung dengan cericitnya yang merdu di pohon-pohon. Dan mamanya yang tersenyum bahagia.
Rindunya semakin meletup-letup.
Di depan mesjid kota, semua kendaraan berhenti, karena terjebak oleh kerumunan orang. Ada iring-iringan kematian lagi! Dia terhenyak. Buru-buru dia menyeret ranselnya. Berlari-lari menyibak kerumunan orang. Dia berusaha menerobos orang-orang sampai ke rombongan paling depan. Dia berusaha terus walaupun orang-orang menghalangi dan ranselnya tercecer. Dia berhasil sampai ke rombongan pengusung jenazah.
Dia melihat keranda itu diselimuti kain serba putih. Ujungnya yang menjuntai melambai-lambai kena tiup angin. Dia berusaha meraihnya, tapi orang-orang menghalaunya dengan kasar. Roy berusaha lagi. Dan dia meronta-ronta ketika orang-orang memberangusnya.
"Lepaskan, lepaskan!" teriaknya panik. Dia terus meronta, bahkan melawan, hingga orang-orang kebingungan melihatnya. "Mama!" teriaknya tambah panik.
Dia merintih sendirian.
Ada seseorang yang mengenalnya. Kawan sekelasnya. "Kenapa kamu, Roy?" katanya membimbing si bandel ke tempat yang agak terpisah.
"Mamaku, mamaku!" Roy masih belum terlepas dari bayangan menakutkan itu.
"Ada apa denganmu, Roy?" Kawannya mengguncang-guncangkan tubuhnya. "Itu bukan mamamu, Roy!"
Roy tersentak. Dia menatap kawannya. Lalu duduk begitu saja dan bersandar pada batang pohon asam. Merenung. Menyembunyikan wajahnya di sela-sela kututnya.
"Baru datang, Roy?" Kawannya menyerahkan ranselnya.
Roy mengangguk pelan.
"Setiap Edi dapet surat dari kamu, kamis sekelas rame-rame ikut ngebaca. Sebetulnya kami ingin membalas surat-surat kamu, Roy. Tapi, kamu tidak pernah punya alamat tetap. Jadi mesti kami kirimkan kemana?" Budi tersenyum simpul.
Roy tidak menanggapi. "Kamu tahu keadaan mamaku sekarang, Bud?" nadanya cemas.
Budi menyodorkan rokoknya. Tapi Roy tidak mencomotnya. Budi tampak gelisah dan kikuk sekali ketika menyulut rokok, karena Roy memandanginya terus.
"Kamu menyembunyikan sesuatu, Bud!"
Budi semakin kikuk.
"Katakan, Bud! Ayolah!" Gelisah sekali si Roy.
"Kamu memang nggak pernah sabaran, Roy!" Budi mulai kesal.
"Jangan bertele-tele, Bud!"
"Oke, tentang mamamu, sungguh, aku nggak tahu. Tapi jangan kaget, dua bulan yang lalu si Ani kawin, Roy."
Roy tertawa hambar. "Apa hubungannya berita perkawinan si Ani sama aku, heh?" dia berubah berang dan panik. "Aku nanya tentang mamaku, Bud!" Dia mencekal bahu kawannya. Menatapnya. Seperti mencari kebenaran pada matanya.
Budi berusaha tertawa. "Jangan munafik, Roy. Semua orang tahu kok kalau si petualang itu selalu merindukan bidadarinya. Cerita-cerita kamu mewakili semuanya, Roy!"
Dewi Venus kawin? batinnya gelisah. Betulkah mulut si Budi sialah itu? Kenapa mesti kabar buruk dulu yang aku terima? batinnya memprotes.
Begitu cepat segalanya berubah.
Roy kini hanya bisa menghitung langkah, kegelisahan, dan kesepian yang merejamnya nanti. Lantas dia membayangkan dirinya yang hendak pulang untuk mereguk kebahagiaan bersama mamanya, tapi sementara itu ada sebagian orang dari desa-desa yang meninggalkan rumahnya untuk mengadu nasib di kota, berimpitan di kolong jembatan, padahal rumah mereka di desa amatlah nyaman. Memunguti remah-remah nasi untuk makan, padahal kebun-kebun mereka di desa melimpah-ruah menyediakan makan.
Kini Roy sudah berdiri di muka rumahnya...
....
bersambung... [Home Sweet Home #2]
0 komentar:
Posting Komentar